Posted by: sibob | March 8, 2009

Muhammad Yunus & Bank Kaum Miskin…(Grameen Bank)

cover-bank-kaum-miskin_resize yunus-3

Maap telat …..mungkin isu ini sudah lama, tapi saya baru merasakan `aura`nya saat ini

Ada yang sudah baca buku ini ?

Buku ini saya recommended banget, bagi siapa saja yang tertarik akan pemberdayaan kaum yg kurang beruntung ,perjuangan kaum papa untuk mencapai kemandirian dan harga diri. Jika anda merasa bahwa dengan ilmu & keahlian yg kalian miliki saat ini belum memberikan sesuatu yang berguna buat orang kebanyakan , utamanya kaum papa, maka ada baiknya membaca buku ini…. Muhammad Yunus telah membuat saya menjadi sangat “kecil”……

Sejak dia memperoleh Nobel di tahun 2006 silam , saya sangat penasaran sekali untuk mengenalnya lebih jauh , baru pada saat liburan akhir tahun kemarin buku tentang dirinya saya beli.

Buku ini terjemahan dar buku aslinya yang berjudul Banker to the Poor : Micro-Lending and the battle against world poverty yang ditulis sendiri oleh Muhammad Yunus bersama Alan Jolis yg kemudian di terjemahkan oleh Irfan Nasution dan ditebitkan oleh Marjin Kiri.

Gaya penulisan buku ini sangat menarik sekali untuk diikuti, itu sebabnya sebagian besar yang saya ceritakan nanti banyak yang saya tulis ulang….sekedar supaya siapa saja yang mampir blog ini tergugah untuk membaca bukunya…;)

Sepulangnya dari AS ke Bangladesh tahun 1972 setelah menamatkan Phdnya atas beasiswa Fulbright Yunus ditawari jabatan mentereng oleh pemerintah sebagai staf pada Komisi Perencanaan Pemerintah , namun karena merasa `gerah` oleh kegiatannya yg menjemukan , beliau pun mengindurkan diri dan kemudian menjadi Dekan di Fakultas ekonomi Universitas Chittagong ,Bangladesh . Kampus ini berada jauh dari pusat kota,berdiri di area perbukitan tandus nan gersang berdekatan dengan sebuah desa miskin bernama Jobra. Setiap pagi dia melihat dari ruang kelasnya barisan anak laki-laki dan perempuan,para pria dewasa dan ternaknya berjalan melintas kampus sambil membawa golok tajam dan kembali sore harinya dengan tumpukan ranting2 . Hatinya tergerak untuk berbuat sesuatu dengan lahan tandus ini ,universitas tidak seharusnya menjadi menara gading tempat akademisi mencapai tingkat pengetahuan setinggi-tingginya tanpa berbagi sedikitpun akan temuan mereka, kampus harus mampu mengubah perbukitan tandus ini menjadi lahan pertanian yang subur, yang sanggup membuka lapangan kerja bagi petani penduduk desa sekaligus dapat menjadi sumber pendapatan sampingan bagi universitas.

Tahun 1974 bencana kelaparan hebat melanda Bangladesh..Yunus menggambarkannya dengan kalimat2 yang sangat menyayat hati ….

” …tetapi kemudian orang orang sekurus kering tengkorak mulai bermuculan di stasiun kereta api dan terminal bis ibukota Dhaka. Dengan cepat kedatangan mereka meluap bak air bah .Orang lapar ada dimana mana. Seringkali mereka duduk begitu diam sampai sulit bagi kita untuk membedakan apakah mereka masih hidup atau sudah mati…..Orang orang lapar itu tidak meneriakkan slogan apapun ,mereka tidak menuntut apapaun dari kami ,penduduk kota yang berkecukupan pangan ini . Mereka hanya terbaring dengan begitu sunyi di pintu-pintu rumah kami dan menunggu mati….”

Tak kuasa dengan penderitaan ini membuat Yunus memelopori gerakan menentang kelaparan dengan membuat Deklarasi Nasional yang disambut oleh reaksi berantai oleh universitas2 lain . Yunus menyerukan untuk meningkatkan produksi pangan dengan terjun langsung pada skala mikro di Desa Jobra dengan mempelajari padi varietas lokal yang rendah dengan varietas unggul dari filipina ,hingga dia menemukan varietas baru dari perkawinan 2 hal tersebut diatas . Bahkan Yunus terjun langsung ke sawah2 mengajari petani cara menanam padi yang benar.

Tidak berhenti sampai disini , Yunus kemudian menggagas sebuah eksperimen dimana semua pihak mulai dari dirinya ,Pemilik Lahan dan Petani tergabung dalam koperasi tani model baru yang dinamakan Najabug ( Era Baru ) Pertanian Tiga Pihak . Pemilik lahan membolehkan lahannya dipakai selama musim kering ,buruh tani akan menyumbangkan tenaganya ,sedangkan andil Yunus adalah biaya untuk bahan bakar untuk menjalankan pompa artesis,bibit tanaman, pupuk,insektisida, dan pengetahuan teknis. Imbalannya masing2 pihak ( Pemilik lahan, Petani dan dirinya ) akan memperoleh 1/3 hasil panen.

Usaha ini di tahun pertama berakhir sukses ,petani bergembira karena tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun mereka memperoleh hasil panen yang banyak, justru Yunus yang rugi karena pada kenyataannya banyak petani yg tidak menyetorkan sebanya 1/3 hasil panen seperti yang telah dijanjikan, tapi hal ini tidak menyurutkan semangat sang Profesor berhati mulia ini …

Keberhasilan eksperimen ini ternyata justru menguak sebuah masalah lain yang tak pernah diduduga Yunus sebelumnya ,dan justru dari kejadian ini lah Yunus mulai menemukan siapa sebenarnya kaum yang paling miskin dari orang miskin…

Setelah Padi dipanen diperlukan untuk mengirik gabah dari batangnya , pekerjaan monoton yang membosankan ini diberikan kepada buruh harian dengan upah termurah . Merekalah kaum perempuan melarat yang jika tidak punya pekerjaan mereka akan mengemis. Berjam-jam kaum perempuan miskin ini akan mengirik gabah dengan kakinya dan untuk menjaga badannya tegak lurus ,mereka tumpu kan tangan kurusnya ke dinding dihadapannya . Sepanjang hari ,25 sampai 30 perempuan akan melakukan gerak mengulir terus menerus ,membelitkan batang padi disekitar kakinya untuk mengirik gabah. Pagi pagi sekali mereka berebutan datang ke tempat kerja agar mendapat posisi paling nyaman di dinding . Yunus melukiskan sebagai Hidup yang mengerikan : hanya demi 40 sen , mereka memanfaatkan bobot tubuh dan gerakan kaki tanpa alas yang melelahkan itu selama 10 jam sehari ! Para wanita ini banyak yang janda karena suaminya meninggal, cerai atau suaminya meninggalkannya pergi dengan anak2 yang harus diberinya makan. Mereka bahkan terlalu miskin untuk menjadi buruh tani,mereka tak punya tanah, tak punya aset dan tak punya harapan…mereka inilah yang paling miskin diantara kaum miskin…

Dari pengalaman inilah Yunus kemudian menyadari pentingnya pembedaan antara mereka yang benar2 miskin dengan petani marjinal , karena ternyata di Bangladesh separuh dari jumlah penduduk jauh lebih miskin ketimbang petani marjinal. Sementara program2 pembangunan internasional di wilayah pedesaan selalu terfokus pada petani dan pemilik lahan, karena para birokrat pemerintah dan ilmuwan sosial tidak pernah mengklarifikasi siapa sesungguhnya “si miskin” itu…..

Pada akhirnya Yunus memutuskan untuk memusatkan perhatiannya pada kaum miskin tuna kisma ( kaum yg tidak memiliki tanah garapan dan tidak memiliki kuasa untuk melakukan penggarapan ). Dalam pandangan Yunus dalam dunia dunia yang sedang membangun ,jika seseorang menyatukan kaum miskin dan kaum yang relatif tidak miskin dalam sebuah program ,maka mereka yang relatif tidak miskin akan selalu ‘mengusir’ merkan yang miskin dan mereka yang miskin akan ‘mengusir’ mereka yang lebih miskin lagi,kecuali langkah2 proteksi dilembagakan secara secara tepat saat program dimulai. Dalam sejumlah kasus, kaum yang relatif tidak miskin malah menikmati manfaat seluruh kegiatan yang dikerjakan atas nama kaum miskin

Rasanya demikian juga yg terjadi di negara kita, pemerintah tidak pernah dengan sungguh2 meneliti dan mengklarifikasi siapa yg sebenarnya si miskin itu ,akibatnya bantuan2 yg selama ini di dengung2kan tidak pernah benar2 100% bermanfaat buat yg membutuhkan , yang terjadi malah banyak orang yg memanfaatkannya untuk mengambil keuntungan dari program ini setelah memanipulasi status dirinya menjadi “miskin”….Astaghfirullah…nauuzubillahminzalik…

SUFIYA BEGUM PENGRAJIN BANGKU DI DESA JOBRA

( inilah kisah awal yang mengilhami Yunus dalam membangun Bank Garmeen)

Suatu hari saat berkeliling di desa Jobra beserta koleganya Prof Latifee, mereka berhenti di rumah bobrok berdinding lempung yang hampir roboh serta beratapkan rumbia yang rendah dan bolong2 . Seorang perempuan berjongok di lantai beranda yg kotor ,sambil mencengkeram bangku bambu setengah jadi dengan lututnya. Jari-jarinya bergerak cepat menjalin bilah2 buluh yang keras. Ketika disapa sang wanita ini bergegas masuk ke dalam rumah ,karena di Bangladesh perempuan tidak semestinya berbicara dengan lelaki yang bukan muhrimnya ….Percakapan Yunus dengan Sufia Begum si pengrajin bangku ini lah yang menjadi pemicu ide kredit mikro yang kelak akan ditiru di 100 negara di dunia , Yunus begitu terkejut mendengar bahwa untuk membuat bangku bambu si Sufia harus meminjam uang kepada rentenir sebesar Lima Taka (waktu itu setara US$ 22 sen ) kemudian untuk membayarnya dia diharuskan untuk menjual lagi bangku itu kepada rentenir tadi jauh dibawah harga pasar hanya sebesar Lima Taka Lima Puluh Posya . Jadi keuntungan yg diperoleh Sufia hanya 50 Posya ( 2 sen ) ,bagaimana anak2 Sufiya bisa bersekolah kalo upah yg diperolehnya hanya cukup untuk makannya sendiri,jangankan lagi ditanya bagaimana dia menaungi keluarganya dan menyediakan pakaian yg layak.

Kenyataan ini mengejutkan Yunus ,betapa tidak….di ruang kelasnya dia mengajari teori mengenai jumlah miliaran dolar ,tapi disini dihadapan matanya masalah hidup dan mati hanya ditentukan oleh sejumlah recehan….baru kali ini dia mendengar seseorang menderita hanya karena ketiadaan uang 22 sen!! . Bila didasari keputusan emosional Yunus bisa saja langsung merogoh uangnya sendiri 22 sen untuk diberikan kepada Sufiya sebagai modal, tapi dia bisa menahan diri, baginya jalan keluar ini terlalu gampang dan terlampau sederhana, Sufiya tidak minta sumbangan, dan memberinya 22 sen tidak akan mengatasi masalahnya secara mendasar dan permanen….Gile…ni orang pikirannya jauh kedepan..coba bandingkan dengan BLT kita…

Setelah mendata secara rinci keberadaan orang2 di desa Jobra terdapat 42 orang yg serupa dengan Sufiya dengan total dana yg mereka butuhkan hanya sebesar US$ 27.

Akhirnya untuk sementara Yunus menggunakan uangnya sendiri, dia berharap dengan uang pinjamannya mereka bisa menjual produknya ke siapapun dengan harga pasaran yg wajar sehingga mereka bisa memperoleh keuntungan setinggi mungkin dan tidak terbelenggu oleh praktik riba dan rentenir….

Mereka miskin bukan karena bodoh atau malas…..mereka miskin karena lembaga2 finansial di negeri ini tidak membantu mereka memperluas basis ekonominya,tidak ada struktur finansial formal yang tersedia untuk melayani kebutuhan kredit kaum miskin…

Saya kira saya cukupkan dulu sampai disini , silahkan baca buku yg sangat inspiratif ini , usaha usaha Yunus berikutnya adalah membela `mati-matian` agar Bank membuka aksesnya kepada kaum papa, hingga pada akhirnya dia sanggup mendirikan Bank Garmeen, Bank bagi kaum miskin ,dimana para nasabahnya adalah juga pemilik saham Bank itu sendiri….Konsep ini telah ditiru oleh 250 lembaga di lebih dari 100 negara di dunia, tak terkecuali di Amerika…

Barangkali di abad ke 21 ini seseorang yang bernama Muhammad yg luhur akhlak budi nya menyerupai Baginda Rasullullah salah satunya dialah orangnya si Muhammad Yunus….

ditengah2 phobia Amerika akan nama2 orang yg berbau Timur Tengah, hingga Goenawan Muhammad saja bisa diinterogasi berjam jam di bandara Amerika hanya karena namanya Muhammad…..ditengah2 orang orang di Barat sana menzalimi Rasulullah lewat penggambaran2 yg keji …

Muhammad Yunus tampil membungkam, mencengangkan dan mencerahkan dunia dengan Nobel Perdamaiannya di thn 2006…lewat mimpi mimpinya,lewat harapan harapannya mengangkat harkat dan martabat kaum miskin ke tempat terhormat……

“Beri tepuk tangan untuk kawan kita,teladan perjuangan melawan kemiskinan.”

Hugo Chaves, Presiden Venezuela

yunus-2yunus-6


Responses

  1. inspiratif banget bukunya. haruh baca nih…

  2. Di Indonesia dipelopori BRI dg program BIMAS (skrg BRI Unit)sejak th 1975an..

  3. Iya betul fi, di prakata buku ini juga diceritakan sedikit tentang program ini di Indonesia..hanya saja kadang niat baik pemerintah tidak selalu sinkron dengan kebijakan2nya…mungkin Indonesia perlu org semacam Yunus yg berani mengkritik tapi sekaligus memberi solusi dan berdialog dengan semua kalangan mulai dari birokrat hingga para kaum miskin itu sendiri tanpa pantang menyerah…di buku ini kita bisa liat bagaimana dia meyakinkan idenya mulai dari manager bank kantor kas,hingga level menteri..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: