Posted by: sibob | January 1, 2009

INDORE ,satu kota dengan 2 penghargaan Aga Khan Award

Ditulis pada bulan Maret thn 2004 , atas permintaan Rekan Heru Subiyantoro teman seangkatan saya yg saat ini mengajar di Jurusan Arsitektur UPN Surabaya, dalam rangka “call for papers” utk sebuah simposium /seminar yg diselenggarakan UPN.

Untuk Penghargaan Aga Khan di tahun 1995 Perumahan Masyarakat Aranya , saya tulis ulang seperti aslinya dari buku “Arsitektur di luar Jangkauan Arsitektur,Kreatifitas dan Transformasi Sosial dalam Kebudayaan Islam Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur 1995 “ yang disunting oleh Cynthia C. Davidson bersama Ismail Serageldin dan diterjemahkan oleh Budi A. Sukada

Sedang untuk Penghargaan Aga Khan di tahun 1998 Perbaikan Kualitas Lingkungan dan Penataan Jaringan Sanitasi Indore city, saya terjemahkan dan simpulkan dari buku “Legacies For The Future ,Contemporary Architecture in Islamic Societies” yg di edit oleh Cynthia C. Davidson, Thames & Hudson Ltd,London 1998

INDORE, SATU KOTA DENGAN 2 PENGHARGAAN AGA KHAN DALAM 2 PERIODE.)1

Setidak-tidaknya ada 2 penghargaan yang paling bergengsi di dalam dunia Arsitektur yakni Pritzker Architecture Prize dan Aga Khan Award for Architecture.

Pritzker Prize diberikan tiap tahunnya kepada individual arsitek (yang masih hidup) yang karyanya mampu memberikan sumbangan nyata kepada masalah kemanusiaan dan lingkungan binaan, Pritzker Prize ini digagas oleh keluarga Pritzker yang memiliki jaringan hotel Hyatt yang tersebar di seluruh dunia. Karena sifatnya yg individual , Pritzker ini sering disetarakan dengan hadiah Nobel, yang memang sering disebut-sebut sebagai bentuk protes kepada Nobel Prize karena tidak dimasukkannya bidang Arsitektur kedalam penghargaan tersebut.)2

Sedangkan Aga Khan Award diberikan lewat periode 3 tahunan kepada sebuah proyek (termasuk arsitek & clientnya) melalui serangkaian penilaian yang diselenggarakan oleh sebuah Steering Comitee yang diketuai langsung oleh sang penggagas Yang Mulia Aga Khan yang merupakan keturunan ke 49 dari Imam Shia Ismaili Muslim. Total hadiah yang diberikan adalah sebesar U$ 500,000 yang merupakan penghargaan yang terbesar di dalam dunia Arsitektur, hasil seleksi oleh Master Jury independen yang terdiri dari orang-orang dengan latar belakang berbagai multidisiplin ilmu. Bukan hal yang kebetulan pula bahwa Zaha Hadid yang memenangkan Pritzker Prize untuk tahun 2004 ini ( sekaligus sebagai arsitek wanita pertama yang memenangkannya selama 26 tahun diadakan !) juga menjadi Steering Committee dan Master Jury dalam penilaian Aga Khan Award di 2 periode terakhir yakni di tahun 1998 dan 2001.)3

Aga Khan Award bertujuan untuk meningkatkan penerapan dan pemahaman akan Arsitektur dalam komunitas Islam. Sejak pertama kali diadakan (1977) Aga Khan Award telah diberikan kepada banyak Arsitek & Client dan proyeknya yang memiliki perhatian mendalam akan sejarah budaya arsitektur lokal, yang spesifik dengan iklim tempatnya berada, juga akan material bangunan serta teknik membangun.

1. Ditulis oleh Bobby Prabowo ,A-25 ITS lulus thn 1995, kini bekerja di birulangit architectjakarta sbg board of designer,anggota IAI Jakarta dan saat ini banyak mengamati masalah permukiman & urban.

2. Baca “Zaha Hadid, Peraih Pritzker Prize 2004”,oleh Prabham Wulung – Kompas 9 Mei 2004

3. Lihat publikasi Aga Khan Award tahun 1998 “Legacies For The Future ,Contemporary Architecture in Islamic Societies” yg di edit oleh Cynthia C. Davidson, Thames & Hudson Ltd,London 1998 dan publikasi tahun 2001 “Modernity and Community : Architecture in the Islamic World “ oleh Kenneth Frampton,Charles Correa dan David Robson, Thames & Hudson Ltd, London 2001

Lewat serangkaian proyek-proyek yang cukup beragam dan terseleksi selama ± 25 tahun ini Aga Khan Award telah menunjukkan dan memperlihatkan kepada dunia berbagai tingkat kreativitas penciptaan dan pemeliharaan akan sebuah lingkungan binaan yang dapat menjamin kelestarian lingkungan hidup dan sosial budaya masyarakat.

Setidak–tidaknya ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar sebuah karya dapat dikatagorikan sebagai “calon pemenang” yaitu al :

Proyek sudah terbangun dan sudah digunakan minimal 1 tahun dan maksimal 12 tahun.

Proyek harus secara intensif memberikan perhatiannya kepada komunitas Muslim dan sanggup memperlihatkan tingkat pencapaian yang luar biasa.

Penghargaan akan diberikan kepada proyek yang sanggup menunjukkan intervensi Arsitektur yang lebih luas dan mendalam terutama terhadap upaya restorasi dan sosial kemasyarakatan, dengan pendekatan disain yang kontemporer namun sanggup memperlihatkan teknologi membangun yang tepat guna.

Walau tidak ada aturan yang pasti mengenai tipe proyek, kondisi lingkungan, lokasi dan besarnya pembiayaan dari sebuah proyek, namun setidaknya proyek tersebut baik secara pasial maupun menyeluruh diperuntukkan bagi komunitas Muslim dimanapun dia berada.

Meskipun demikian sebenarnya diluar itu tidak ada standard baku yang dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk menilai sebuah karya pemenang Aga Khan Award ini, yang pasti bahwa “ the understanding that architecture has a social contract has been at the heart of the Award`s mission “ …..pemahaman bahwa arsitektur adalah sebuah “ikatan sosial” adalah hal yang utama dari penghargaan ini….

Tahun 2004 ini adalah periode yang ke 9 dari siklus 3 tahunan Aga Khan Award dan rencananya para pemenang akan diumumkan pada musim gugur tahun ini.)4 Dari 3 periode terakhir yakni tahun 1995, 1998 dan 2001 yang lalu, setidaknya ada 5 penghargaan yang terdapat di India dan sesuai dengan judul tulisan diatas, ternyata kota Indore ,ibukota dari propinsi Madhya Pradesh yang terletak di India Tengah memperoleh 2 penghargaan untuk 2 proyek yang berbeda berturut turut di tahun 1995 dan 1998.

.

4. Kunjungi www.Aga Khan Award.com


Indore terletak di dataran tinggi Malwa pada pertengahan antara New Delhi dan Bombay , Indore selain merupakan pusat pemasaran dan pendistribusian kapas, kacang, terigu/gandum dan hasil pertanian lainnya juga merupakan kota industri textil yg cukup penting di India. Dengan peran kota yg kompleks ini tak pelak lagi Indore tumbuh menjadi sentra bisnis yang sibuk dan padat . Dengan sendirinya kota menciptakan berbagai kesempatan lapangan kerja baru dan migrasi dari para pencari kerja dari kota kota kecil serta desa desa disekitarnya pun menjadi hal yang tak terelakkan . Sudah dapat dibayangkan pertumbuhan kota yg padat ini lambat laun membawa persoalan urban yang cukup pelik,luapan kaum migran membawa dampak masalah permukiman yang cukup mengkhawatirkan, banyak kantong-kantong kumuh yang tersebar dipenjuru kota. Namun dengan pendekatan dan kerjasama yang baik dari pemerintah kota, penyandang dana,LSM dan kesadaran dari komunitas masyarakat itu sendiri,Indore mulai bisa berbenah diri menuju kota yang lebih manusiawi.

2 Penghargaan Aga Khan yang sudah disinggung di atas adalah Perumahan Masyarakat Aranya untuk tahun 1995 dan Perbaikan Kualitas Lingkungan dan Penataan Jaringan Sanitasi di pusat kota Indore di tahun 1998

PERUMAHAN MASYARAKAT ARANYA

INDORE– INDIA ( DISELESAIKAN 1989 )5

Perencana : Balkhrisna V. Doshi, Yayasan Vastu-Shilpa

Penghargaan Aga Khan Award for Architecture 1995

Proyek ini mengetengahkan bakat seorang arsitek terkenal yang menangani masalah perumahan bagi masyarakat miskin sambil meningkatkan keharmonisan sosial di tengah meningkatkan ketegangan sosial.

Aranya mengganti pola papan-catur yang kerap dihubungkan dengan proyek Sites & Services (Pembangunan yang bermodalkan penyediaan perumahan self – help)6 dengan rancangan urban yang lebih cocok, sekaligus berusaha menyediakan pembendaharaan arsitektur yang sesuai untuk iklim maupun situasi sosio-ekonomi setempat. Dengan pembendaharaan yang dikembangkan oleh arsiteknya itu terbuka

kesempatan untuk membangun secara bertahap dan terjangkau. Unit-unit contoh buatan dari arsiteknya dapat dikombinasikan tanpa batas sambil tetap mengikuti persyaratan standard bagi prasarana utilitas dan fondasi. Di pihak lain, rancangan itu memberi pernyataan yang provokatif mengenai perumahan murah.

Yang lebih penting ditimbang sasaran di atas adalah kemampuan proyek ini mencapai sasaran sosial yang dijanjikanya dengan menciptakan ruang-bersama tempat warga Muslim, Hindu, Jainya dan lainya bercampur. Proyek ini dengan demikan membuahkan semangat koperasi, kebersamaan, toleransi dan hubungan sosial yang kohesif. Tambahan lagi, di sana diwadahi percampuran sosial secara aktif sehingga bantuan dana secara subsidi-silang dapat dilakukan.

Proyek ini memperlihatkan skema yang lain dari biasanya sehingga pantas untuk dipelajari. Dalam duni yang tengah dilanda sikap tanpa toleransi serta percekcokan, proyek ini merupakan karya arsitektur yang menjadi marcu-suar pencerahan dengan tanggung jawab sosial yang tinggi.


5. Ditulis ulang seperti aslinya dari publikasi Aga Khan Award thn 1995 “Arsitektur di luar Jangkauan Arsitektur,Kreatifitas dan Transformasi Sosial dalam Kebudayaan Islam Penghargaan Aga Khan untuk Arsitektur 1995 “ yang disunting oleh Cynthia C. Davidson bersama Ismail Serageldin dan diterjemahkan oleh Budi A. Sukada

Indore adalah sebuah kota komersial yang amat menderita kekurangan fasilitas perumahan. Kawasan kumuh disana muncul tanpa terencana, penuh sesak dalam bentuk kumpulan gubuk yang membentuk suatu masyarakat tersendiri lengkap dengan toko-toko kecil dan jalan-jalan yang mewadahi berbagai aktivitas sosial, ekonomi dan domestik. Seperti biasanya, di sana tidak ada prasarana utilitas maupun infrastruktur lainya sehingga jelas mempengaruhi kesehatan lingkungan dan masyarakatnya.

Pada tahun 1983, Yayasan Vastu Shilpa dipercayai mempersiapkan rencana induk bagi perkembangan sebuah kota baru di Aranya, yang terletak di sisi jalan raya Delhi-Bombay sekitar 6 kilometer dari kota Indore. Dengan wilayah seluas 85 hektar, kota Aranya dirancang sebagai proyek Sites & Services dalam 6 sektor yang mengelilingi sebuah Pusat Distrik Bisnis. Pola perencanaanya informal meniru pola kawasan kumuh. Pusat kota terdiri dari 4 kelompok perbelanjaan, pemukiman dan komplek perkantoran. Di ujungnya terdapat 2 klompok permukimannya menghadap ke jalan. Tiap kelompok terdiri 10 rumah, masing-masing memiliki halaman belakang yang dipakai untuk daerah servis dan tempat bermain anak-anak. Rang terbuka dan jalan pedestrian saling berpotongan sambil menghubungkan kelompok-kelompok rumah tadi di daerah pusat. Jalan-jalan dan lapangan di dalam kelompok diberi perkerasan sedangkan jalan-jalan utama dan jalan-lingkar yang menghubungkan pusat kota dengan bagian kota lainnya dilapisi aspal.

Gambar 1. Pola Perencanaan yang mengikuti pola kawasan kumuh itu sendiri. Pola ini direncanakan memadukan berbagai kelompok penghasilan . Kelompok paling miskin diletakkan dibagian tengah , sedangkan yang lebih tinggi diletakkan di bagian tengah sektor

Gambar 1. Pola Perencanaan yang mengikuti pola kawasan kumuh itu sendiri. Pola ini direncanakan memadukan berbagai kelompok penghasilan . Kelompok paling miskin diletakkan dibagian tengah , sedangkan yang lebih tinggi diletakkan di bagian tengah sektor

Gambar 2. Perumahan yang dibuat pada tahap pertama

Gambar 2. Perumahan yang dibuat pada tahap pertama

Gambar 3. Jalanan dipakai untuk ruang terbuka dan aktivitas para penghuni

Gambar 3. Jalanan dipakai untuk ruang terbuka dan aktivitas para penghuni

Yayasan Vastu Shilpa memakai program komputer untuk menemukan teknologi prasarana utilitas yang biayanya paling efesien, efektif dan dengan pemeliharaan yang paling mudah. Tiap 20 rumah dihubungkan pada sebuah septik tank. Tiga reservoir air, masing-masing melayani 2 sektor perumahan, dibangun di tempat yang paling tinggi. Ketiganya dihubungkan untuk menyediakan air bagi seluruh kota. Jaringan listrik-luar dipasang bagi kelompok masyarakat menengah dan atas sedangkan jaringan bawah-tanah disediakan bagi kawasan yang dihuni oleh masyarakat berpenghasailan rendah.

Kawasanya direncanakan memudahan berbagai kelompok penghasilan. Kelompok paling miskin diletakkan di bagian tengah sektor sedangkan yang penghasailannya leih tinggidiletakkan dipinggiran serta di daerah pusat kota. Hal itu tercermin juga dalam skenario pendanaanya yang membuka pilihan bagi berbagai tampak di lahan Sites & services, sehingga sumber pendanaan bagi masyarakat-campuran itupun mungkin dilakukan. Rumah-rumah yang dibuat oleh Arsitek Balkhrisna Doshi memberi sejumlah pilihan, dari hunian satu kamar sampai rumah-rumah yang lebih luas. Sejalan dengan itu ditampilkan juga rasa kekurangan dan ketetanggan sambilmemotong pengadaptasian serta personalisasi yang selaras dengan kebutuhan perorangan maupun penyedian sumber-sumbernya.

Gambar 4. Sketsa buah pikiran Doshi tentang perencanaan pembagian ruang dan kebudayaan sosial ekonomi

Gambar 4. Sketsa buah pikiran Doshi tentang perencanaan pembagian ruang dan kebudayaan sosial ekonomi

Gambar 5. Teras dan balkon sebagai penghubung antara rumah dan jalan

Gambar 5. Teras dan balkon sebagai penghubung antara rumah dan jalan

Gambar 6. Interior dalam sebuah rumah

Gambar 6. Interior dalam sebuah rumah

Untuk kebanyakan kelompok masyarakat, hanya tampaknya saja yang dijual. Kelompok yang berpenghasilan rendah diberi berbagai pilihan, sudah termasuk tampak, sarana servis dan satu kamar, sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Pemilik dibebaskan memilih bahan bangunan maupun dekorasinya sendiri-sendiri. Bata, batu dan semen tersedia di lokasi. Uang-didasarkan pada pendapatan rata-rata keluarga sedangkan angsurannya dicicil bulanan. Biaya pemeliharaan sebesar 2 Rupee per bulan berlaku bagi tiap tampak yang dimilikioleh masyarakat berpenghasilan rendah.

Polulasi di tiap sektor berkisar antara 7000 sampai 12000 orang. Semua tampak terjual habis sedangkan kelompok komersial dan institusional mulai membangun fasilitas masing-masing di pusat kota. Delapan puluh rumah yang dirancang oleh Doshi dan jalan-jalan yang mengatur rumah-rumah tersebut patut dicatat. Tampak lainnya dikembangkan sendiri oleh para pemiliknya, dibangun dan diberi jati-diri yang tidak selamanya mengikuti moddel yang dibuat oleh Doshi. Beberapa pemilik telah menjual tampak mereka atau melakukannya melalui para perantara. Harga jual-kembali saat ini sekitar 700 dollar untuk tampak seluas 35 m2, atau sekitar 10 kali dari harga aslinya.

Lepas dari hal-hal di atas, dampak pembangunan kota Aranya ini berupa timbulnya toleransi antara kelompok etnik dan masyarakat yang berlainan penghasilannya. Di sana terbentuk masyarakat yang vital dan subur, tempat di mana keluarga dapat hidup dalam rumahnya sendiri, dalam suasana yang bersahabat. Kondisi seperti itu tidak akan ditemukan di kawasan kumuh pada umumnya.

PERBAIKAN KUALITAS LINGKUNGAN & PENATAAN JARINGAN SANITASI DI INDORE CITY,

INDORE – INDIA 1989 – sekarang )2

Perencana : Himanshu Parikh, Civil Engineer

Penghargaan Aga Khan Award for Architecture 1998

Gambar 1.  Suasana Indore saat ini , penataan lansekap & pedestrian  disisisi sungai. Sungai mulai kelihatan bersih dari sebelumnya  yang dipenuhi oleh kotoran akibat jaringan sanitasi yang buruk

Gambar 1. Suasana Indore saat ini , penataan lansekap & pedestrian disisisi sungai. Sungai mulai kelihatan bersih dari sebelumnya yang dipenuhi oleh kotoran akibat jaringan sanitasi yang buruk

Gambar 2. Penataan & perbaikan lingkungan meliputi perbaikan jalan (paving), drainase,supply air bersih, jaringan air kotor, penerangan jalan, lansekap dan pembenahan manajemen pembuangan

Gambar 2. Penataan & perbaikan lingkungan meliputi perbaikan jalan (paving), drainase,supply air bersih, jaringan air kotor, penerangan jalan, lansekap dan pembenahan manajemen pembuangan

Proyek ini menggambarkan sebuah kesuksesan dalam memobilisasi, mengkoordinasikan dana & sumber daya manusia dari para penyandang finansial,lembaga pemerintah, LSM dan komunitas – komunitas lokal dalam menciptakan sebuah lingkungan yang layak huni dari sebuah kawasan hunian marginal yang kumuh di Indore.

Bukan hanya itu , proyek ini juga berhasil mereklamasi sungai yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan keseharian masyarakat Indore dari semula terpolusi berat sebagai ekses dari buruknya sisitim sanitasi menjadi sungai yg bersih & higienis serta bisa dinikmati selayaknya sebuah waterfront city!

Semua ini terwujud karena usaha yg sungguh sungguh dalam menciptakan sebuah perencanaan yg inovatif, pembiayaan yang murah, pengaturan level jaringan saluran air kotor dan penciptaan sebuah sistem yg solid dalam manajemen pembuangan air buangan & air kotor.

Yang menjadikan proyek ini unik & menarik adalah dengan diterapkannya pengaturan dan penataan yang tetap mengacu pada pola yang ada yaitu pola dan aturan aturan yg tumbuh di dalam kawasan kumuh itu sendiri dalam perencanaan peningkatan kawasan. Pendekatan ini ternyata sangat bermanfaat juga dalam menata kawasan lain yang memiliki persoalan yang sama dgn di Indore, dimana umumnya cara cara yang konvensional ( conventional urban upgrading ) memiliki kelemahan, karena sisitem ini sangat jarang mengintegrasikan kawasan kumuh ke dalam perencanaan kota secara menyeluruh.

Indore terletak di dataran tinggi Malwa pada pertengahan antara New Delhi dan Bombay , Indore selain merupakan pusat pemasaran dan pendistribusian kapas, kacang, terigu/gandum dan hasil pertanian lainnya juga merupakan kota industri textil yg cukup penting di India.

Dengan peran kota yg kompleks ini tak pelak lagi Indore tumbuh menjadi sentra bisnis yang sibuk dan padat . Dengan sendirinya kota menciptakan berbagai kesempatan lapangan kerja baru dan migrasi dari para pencari kerja dari kota kota kecil serta desa desa disekitarnya pun menjadi hal yang tak terelakkan .

Kebanyakan dari para buruh migran ini menempati area area “slum” & marginal yang jumlahnya mencapai 183 titik “slum area” yang menyebar diseluruh kota. Bagian terbesar menempati area sepanjang tepi sungai Khan dan Saraswati , 2 sungai yg mengalir membelah kota Indore. Total populasi 1.400.000 jiwa (1995) saat ini ?? , 28 % tinggal di area slum, diperkirakan polpulasi meningkat 30% pada tahun 2000 yg lalu , berarti ± 14.420.000. jiwa, 25 % dari total penduduk beragama Islam, selebihnya Hindu dan yg lainnya.

Sistem pembuangan dan pengolahan air kotor yang dibangun tahun 1936 hanya sanggup melayani 5% dari total populasi seluruh kota !!. Semua saluran buangan dialirkan dan dilepaskan begitu saja ke Sungai Khan & Saraswati, sehingga sungai menjadi tercemar, seluruh kota mengalami kondisi yg tidak hygienis yang semakin memperburuk keadaan yg tidak sehat di pemukiman pemukiman kumuh yg tersebar di penjuru kota.

Konsep dari proyek ini adalah untuk menciptakan sebuah sistem urban infrastruktur yang effisien yang pada gilirannya perlahan lahan dapat memperbaiki dan menghapuskan kekumuhan tsb.

Himanshu Parikh sang perencana memperkenalkan sebuah konsep penataan yang idenya diangkat dari pola yang sudah terjadi di kawasan kumuh itu sendiri, Himanshu memperkenalkan konsep pengaturan jaringan infrastruktur yg effisien untuk air kotor & air buangan, saluran drainase yang tidak mudah rusak ( heavy duty ) dan jaringan suplai air bersih yang alurnya mengikuti bentuk alur tepian sungai. Serangkaian survey kondisi fisik kawasan dan kondisi sosial ekonomi yang sangat intesif dilakukan untuk menentukan saluran drainase yang alamiah ,yang ramah lingkungan sebelum dilepaskan ke sungai Khan dan Saraswati dan mengidentifikasikan secara tepat keluarga keluarga pada kawasan kumuh tersebut yang benar benar sangat membutuhkan pertolongan/perbaikan. Tujuan identifikasi ini bukan semata mata untuk mencari solusi yang unik/khusus untuk kawasan ini , tapi lebih kepada bagaimana mencapai sebuah ikatan kebersamaan yang saling menguntungkan antara kawasan kumuh ini dengan kehidupan kota secara keseluruhan.

Secara umum program ini memiliki 5 tujuan utama , yaitu :

1. Pendekatan secara menyeluruh terhadap isu isu lingkungan dalam kaitannya untuk perbaikan kualitas kawasan dan kota secara menyeluruh

2. Penciptaan program penghematan biaya dalam pendanaan untuk pembangunan jaringan utilitas dan perumahan

3. Memobilisasi sumber sumber material untuk perbaikan pemukiman

4. Meningkatkan kontrol dan tanggung jawab komunitas

5. Meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh yang mencakup perbaikan taraf pendidikan, kesehatan dan pendapatan

Misi ini bisa terwujud lewat solusi engineering yang inovatif dan murah biaya, dimana sang perancang memberikan perhatian utama untuk menurunkan elevasi dan menutup dengan paving seluruh jalan/pedestrian yang melalui kawasan kawasan kumuh , dengan tujuan untuk :

Agar air hujan bisa langsung terserap.

Memasang/menanam selokan dan bak kontrol / septictank di tiap rumah untuk pembuangan air kotor dan air buangan

Memasang bak kontrol untuk inspeksi untuk setiap 6 sampai 8 rumah

Membuat jaringan yang menyatukan seluruh saluran buangan menuju saluran utama yang ada di sepanjang sisi sungai

Gambar 3. Penyediaan dan perbaikan  jaringan supply air bersih  dilakukan di seluruh kawasan

Gambar 3. Penyediaan dan perbaikan jaringan supply air bersih dilakukan di seluruh kawasan

Gambar  4. Saluran pembuangan air kotor yang tertanam di bawah tanah . Para penghuni diminta membayar untuk pembuatan  km/wc pribadi dan koneksinya ke saluran air bersih

Gambar 4. Saluran pembuangan air kotor yang tertanam di bawah tanah . Para penghuni diminta membayar untuk pembuatan km/wc pribadi dan koneksinya ke saluran air bersih

Gambar 5. Bagan implementasi pelaksanaan proyek di lapangan

Gambar 5. Bagan implementasi pelaksanaan proyek di lapangan

Gambar 6. Jalan jalan setapak yang semula berlumpur , sekarang di tutup dengan paving dan terdapat bak bak kontrol dari saluran pembuangan yang menghubungkan 6 – 8 rumah

Gambar 6. Jalan jalan setapak yang semula berlumpur , sekarang di tutup dengan paving dan terdapat bak bak kontrol dari saluran pembuangan yang menghubungkan 6 – 8 rumah

Dalam pelaksanaannya hal-hal tersebut diatas dibagi menjadi 2 bagian :

Pada level kota , saluran/jaringan pembuangan utama ini didanai oleh Indore Development Authority dan Great Britain`s Overseas Development Administration ( sekarang Departement for International Development ) yang dibangun si sepanjang tepi sungai dengan biaya US $18.000.000.

Pada level slum area, para penghuni kawasan kumuh ini dikenai biaya untuk pembuatan toilet pribadi dan sambungan saluran air bersih & air kotor ke jaringan utamanya yang besarnya rata-rata 10.000 rupee / keluarga

Gambar 7 . Gambar di atas menunjukkan peta kota Indore berikut identifikasi kawasan kawasan kumuhnya (warna hitam) dalam

Gambar 7 . Gambar di atas menunjukkan peta kota Indore berikut identifikasi kawasan kawasan kumuhnya (warna hitam) dalam

Keputusan pemerintah kota yang memberikan kesempatan kepada para penghuni pemukiman kumuh ini untuk tinggal lebih lama di tanah (kawasan) ini , merupakan cara yang efektif untuk melegalkan komunitas mereka yang marjinal , sekaligus insentif dalam menginvestasikan dana mereka demi kelangsungan program sistem jaringan utilitas kota .

Tipikal unit tempat tinggal terdiri dari satu kamar, dapur,kamar mandi/toilet,dan ruang cuci. Peningkatan kualitas jalan & saluran ,adanya lampu-lampu jalan serta dibangunnya bangunan / hall serbaguna sangat menggambarkan perubahan kemajuan yang sangat dramatis di kawasan yg semula kumuh ini. Tak terelakkan pula para penghuni pun mulai menginvestasikan dananya untuk meningkatkan kualitas hunian mereka, mulai terlihat di sepanjang jalan-jalan yg telah tertata apik rumah-rumah dengan warna-warna berbeda,ada yang dihiasi cornice, railing dan macam-macam dekorasi lainnya.

Gambar 8. Studi menunjukkkan bahwa kebanyakan lokasi kumuh berada di sepanjang sisi sungai. Foto diatas menunjukkan keadaan sebelum proyek ini berjalan dimana sungai menjadi kotor dan bau sebagai akibat pembuangan kotoran yg serampangan. Foto dibawahnya menunjukkan kondisi saat ini dimana dengan penataan jaringan sanitasi sungai menjadi lebih bersih dan sisi sungai pun menjadi tertata rapi sehingga  bisa dikembangkan menjadi kawasan komersial

Gambar 8. Studi menunjukkkan bahwa kebanyakan lokasi kumuh berada di sepanjang sisi sungai. Foto diatas menunjukkan keadaan sebelum proyek ini berjalan dimana sungai menjadi kotor dan bau sebagai akibat pembuangan kotoran yg serampangan. Foto dibawahnya menunjukkan kondisi saat ini dimana dengan penataan jaringan sanitasi sungai menjadi lebih bersih dan sisi sungai pun menjadi tertata rapi sehingga bisa dikembangkan menjadi kawasan komersial

Gambar 9. Bagan ini menunjukkan bahwa kesuksesan program ini tidak lepas dari kerjasama dan kolaborasi yang kontinyu dari penguasa lokal, para profesional, LSM ,penyandang dana serta komunitas masyarakat itu sendiri

Gambar 9. Bagan ini menunjukkan bahwa kesuksesan program ini tidak lepas dari kerjasama dan kolaborasi yang kontinyu dari penguasa lokal, para profesional, LSM ,penyandang dana serta komunitas masyarakat itu sendiri

Satu hal yang tidak kalah penting dari proyek ini adalah jheel , jheel adalah titik point pertemuan antara sungai Khan dan Saraswati, yang juga adalah kawasan kumuh Krishnapura yang terletak di pusat kota Indore. Semula kawasan ini penuh dengan kotoran dan sampah , namun dengan berhasilnya proyek ini jheel telah berubah menjadi kawasan waterfront yang baik dan menggambarkan sebuah revitalisasi kawasan cagar budaya yang berhasil. Salah satu sisi sungai telah di tata dengan pedestrian yang sudah berpaving, pengaturan tata letak tanaman serta pohon-pohon peneduh, di sisi yang lain ( berseberangan ) sebuah shopping arcade dengan bangunan 2 lantai telah terbangun.

Gambar 10. Gambar & Foto diatas ini adalah jheel  yaitu titik pertemuan antara Sungai Khan dan Sarawati, di lokasi ini juga terdapat kawasan cagar budaya yg cukup penting ( sisi atas sungai – Gambar 11 ). Sedang Foto dibawah adalah keadaan   sisi sebarangnya yang saat ini ditata menjadi pedestrian way dan kawasan komersial.

Gambar 10. Gambar & Foto diatas ini adalah jheel yaitu titik pertemuan antara Sungai Khan dan Sarawati, di lokasi ini juga terdapat kawasan cagar budaya yg cukup penting ( sisi atas sungai – Gambar 11 ). Sedang Foto dibawah adalah keadaan sisi sebarangnya yang saat ini ditata menjadi pedestrian way dan kawasan komersial.

Gambar 11. Foto diatas adalah keadaan sisi atas sungai ( berseberangan dengan area komersial ) dimana terdapat bangunan cagar budaya, semula keadaannya sangat memprihatinkan , namun setelah program ini berjalan kondisi sungai bisa diperbaiki, dengan menaikkan air sungai setelah terlebih dahulu merendahkan elevasi sisi seberangnya.Sungai menjadi lebih bersih dan kawasan budayapun terselamatkan.

Gambar 11. Foto diatas adalah keadaan sisi atas sungai ( berseberangan dengan area komersial ) dimana terdapat bangunan cagar budaya, semula keadaannya sangat memprihatinkan , namun setelah program ini berjalan kondisi sungai bisa diperbaiki, dengan menaikkan air sungai setelah terlebih dahulu merendahkan elevasi sisi seberangnya.Sungai menjadi lebih bersih dan kawasan budayapun terselamatkan.

Tahun 1980 an slum improvement project secara tipikal menyediakan sarana fasilitas umum seperti toilet dan ruang cuci bersama . Namun ternyata berbagi fasilitas ini secara bersama-sama justru sering merangsang munculnya keributan,kejahatan dan penganiyayaan. Sebagai contoh untuk menjaga privasi para wanita biasanya pergi ke toilet umum di waktu pagi-pagi sekali yang ternyata justru sering menjadikan mereka sebagai korban perkosaan dan penyiksaan. Tapi sekarang dengan adanya toilet dan ruang cuci di masing-masing rumah , bukan saja nilai rumah yang meningkat tetapi juga tingkat kejahatan yang semula tinggi hampir menjadi hilang sama sekali.

Mengurangi angka kemiskinan seharusnya menjadi prioritas bagi negara-negara berkembang, tapi memang hal ini membutuhkan porsi dana yang tidak sedikit dan biasanya jusrtu menjaga kelangsungannya yang memang cukup sulit.

Di Indore inovasi-inovasi desain memang dititik beratkan untuk mengurangi angka kemiskinan pada masyarakat penghuni kawasan kumuh dan proyek serupa telah coba diterapkan di kota-kota lain seperti Barodha, Ahmedabad, Jodhpur dan Bombay.

131

Gambar 12 & 13. Kondisi Indore saat ini, jalan yang semula tanah sehingga banyak debu dan berlumpur dikala hujan kini ditutup dengan paving dengan elevasi yang lebih rendah sehingga menjadikannya sebagai saluran alami di kala hujan.

Gambar 12 & 13. Kondisi Indore saat ini, jalan yang semula tanah sehingga banyak debu dan berlumpur dikala hujan kini ditutup dengan paving dengan elevasi yang lebih rendah sehingga menjadikannya sebagai saluran alami di kala hujan.

Kawasan kumuh merupakan hal yang tak terelakkan di negara berkembang , mereka selalu muncul dan tumbuh, bila penghuni kawasan ini terancam mereka akan dengan cepat & mudah berpindah ke tempat lain. Slum area hampir tumbuh di semua kota di dunia, tapi hanya dengan “memahami” keberadaanyalah mereka dapat memberikan sumbangan yang berarti kepada kehidupan kota.

Di Indore kawasan kumuh berarti sebuah solusi,dengan memahami dan memanfaatkan potensi-potensi setempat untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup manusia dan proyek ini ( The Indore Slum Networking Project ) telah memperkuat hak manusia untuk memperoleh kebutuhan dasarnya demi sebuah martabat yaitu sebuah tempat tinggal dalam komunitasnya……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: